Kapitalisme Pendidikan

Gelombang kapitalisme seperti air bah yang ga mungkin dihalau, seperti kanker yang menggerogoti setiap inci kehidupan kita, kapitalisme yang benihnya adalah materialisme kian menggurita. Kita yang hidup di negara berkembangpun tak luput dari kapitalisasi, yang hakikat dari kapitalisme adalah imperalisme sebuah cara sistematis untuk menguasai, menjajah dan memperbudak manusia lain yang lebih lemah, bahkan merampok dengan cara yang kejam dan licik, karena semua harta kekayaan di hisap sampai tak tersisa ampasnya. Wah ndak usah pusing! Sebenarnya seperti apa sih kapitalisme itu? Gampangannya adalah siapa yang paling banyak uangnya dialah yang paling berkuasa, contohnya? Amerika adalah penyumbang dana terbesar PBB, jadi yang mbayarin listrik, mbangun kantor dsb ya amerika, makanya dia paling berhak menentukan segala macem peraturan internasional entah dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dan apapun mengenai kebutuhan hidup jaman sekarang. Trus apa hubungannya dengan pendidikan kita? lho jangan salah, kapitalisme juga sangat bermain disitu, meski kapitalis di sini bisa kita bedakan menjadi kapitalis asing dan kapitalis domestik. Akan tetapi mereka adalah seperti kerbau dan burung pemakan kutu di punggung sang kerbau, alias saling menguntungkan. Kapitalis lokal adalah burung sang pemakan kutu, sedangkan kapitalis internasional adalah kerbau yang tidak mau diganggu oleh siapapun kalau dia sedang makan. PBB (penindas bangsa-bangsa) menetapkan standart produk eksport yang sangat ketat, yang sementara ini ga mungkin negara-negara berkembang memenuhi st a ndart tersebut,maka kemudian pendidikanlah sebagai pencetak tenaga-tenaga ahli perlu meningkatkan kualitas kurikulum yang sekarang disebut berbasis kompetensi,yang senyatanya itu tidak luput dari kapitalisasi pendidikan. Sekarang marilah kita tengok sejenak pendidikan yang berbasis kompetensi itu, yang bahkan ada kelas khusus bagi orang orang yang berotak einstein sekaligus nyokab bokab berkantong tebal, karena spp kelas akselerasi bisa dua kali lipat kelas biasa.Adanya perubahan dalam pendidikan kita yang cukup revolusif itu tentu a da konsekuensi logisnya. Siapakah yang paling merasakan dampak dari basis kompetensi tersebut?tentu saja para murid,generasi dambaan rakjat hindia belanda(indonesia),yang merupakan tulang punggung bangsa ini di masa depan,eksisntensi bangsa ini.Tapi ironisnya mereka jugalah para anak-anak negri yang menjadi korban kebijakan pemerintah yang serba ga jelas,bahkan terkesan trial and error,yang seharusnya pemerintah mengalokasikan dana yang besar untuk mengfkaji tidak hanya dari sisi kebutuhan intelektual kognitif, tapi j yang juga tidak kalah penting adalah moral sosial kultural, pernahkah pemerintah menjadikan itu sebagai acuan dalam pilar pendidikan kita? saya kira TIDAK,pendidikan moral hanyalah setumpuk norma yang hanya dihafal dan diamalkan dalam lembar jawaban ujian,agama juga bernasib sama,menjadi bukan ilmu,tapi pengetahuan saja,paling mending jadi amal ibadah tanpa ruh. Pernahkah guru kita menerangkan dalam hal aqidah, bahwa LAA ILAAHA ILLALLOH,adalah hanya Alloh saja yang berhak di ibadahi dan dipertuhankan,sehingga tidak boleh ada perbudakan dalam bentuk apapun,dan pernahkah kita dijelaskan bahwa sholat adalah kita tunduk dan menghinakan diri dihadapan Alloh, serta berbuat baik dan peduli kepada sesama?sekali lagi tidak , tapi kita hanya dijejali setumpuk hafalan,agama yang khas bergaya Pancasila.Kembali kepada pendidikan,kita melihat betapa beratnya beban akademis berupa materi pelajaran yang tambah sulit,serta standart nilai kelulusan yang mencekik..kik..kik..kik.Bukankah filosofi pendidikan itu mengasah potensi kecerdasan?bukannya memerangi kebodohan,atau menciptakan kecerdasan, tidak…karena kecerdasan itu given, pemberian dari Alloh,jadi bukan orang itu pintar atau bodoh,tetapi terasah atau tidak,serta mendapat kesempatan dan fasilitas untuk maju atau tidak,meski kecerdasan itu relatif dan luas.karena relatif dan luas maka berangkat cari situ, seharusnya metode pendidikan menjadi kompleks,serta target pendidikan pendidikanpun luas. Tahukah indikasi kegagalan tujuan pendidikan itu?yaitu ketika murid sebagai obyek dan subyek pendidikan itu terbagi ada yang merasa pintar dan ada yang merasa sangat bodoh.tapi itulah yang terjadi saat ini, dan bukankah itu apa yang pernah menjadi kebijakan hitler dengan membikin camp khusus untuk para pemuda dan orang -orang yang sempurna secara fisik, yaitu dengan ukuran volume otak tertentu, warna mat a tertentu, tingi badan dan sebagainya yang mencirikan khas ras arya, maupun sempurna secara mental dan kecerdasan, juga apa yang dilakukan oleh inggris atas penduduk asli Afrika dengan politik apartheidnya(rasisme). Itulah ciri ciri kapitalisme, menghasilkan kelas-kelas sosial yang sarat penindasan dan ketidak adilan. Mungkin ini terlalu jauh melompat, tapi gue yakin feomena”kahanan” masyarakat sekarang ini tidak terlepas dari fenomena global kapitalisme, maka apa jadinya pabila sistem pendidikan kita juga menganut sistem kapitalis, yang selanjutnya menghasilkan lulusan intelektual dan tenaga ahli yang kapitalis pula, maka rakyat miskinlah yang kembali akan kena dampaknya, serta aset-aset negara akan terjual kepada orang-orang asing,karena sisitem kapitalis adalah seperti piramida, semakin keatas semakin sedikit yaitu orang yang memilik uang lebihbanyak,makadia yang menguasai hajat hidup orang bannyak, seperti menguasai dan memperjual belikan air,udara, tanah dan sebagainya,padahal haram hukumnya memperjual belikan air yang m,erupakan kekayaan alam untuk umum seperti sungai.Singkatnya ikhwah fillah, kapitalisme menghadirkan tatanan sosial yang menyereramkan,seperti hutan rimba yang singa sebagai raja hutannya,ia boleh menggigit siapa saja dan memakan siapa saja dan kapan saja, peraturan itu hanya satu, yang kuat yang menang,kapital sebagai raja rantai makanan, dan o ra ng -orang lemah,miskin dan bodoh sepert icacing danbakteri poengurai diurutan rantai makanan terakhir. terakhir….bagaimana kita melawan kapitalisme pendidikan…..? baca tulisannya bagian kedua,,….next….to be continued

~ oleh renuha di/pada Juni 20, 2008.

Tinggalkan Balasan