Kita Bagian dari Masalah (Untuk Bumi)

Minggu pagi biasanya saya duduk didepan tifi dan bersiap-siap nonton lensa olahraga, sebuah acara berita olah raga yang meliput hasil-hasil pertandingan sepakbola dan lain-lain. Saya memilih nonton acara tersebut karena malas nonton sepak bola yang jam tayangnya larut, jadi saya lebih seneng nonton beritanya saja, apalagi ditempat saya bekerja teman-teman maniak ngomongin sepak bola, dari pada gak nyambung kalo ngomong yaaah……….., saat saya menyalakan tifi seorang presenter berita sedang membacakan berita tentang kenaikan BBM, “ooo rupanya lensa olah raga belum dimulai” pikir saya, ya udah saya jalan dan bersiap membuat teh anget karena saya tidak terlalu peduli dengan berita yang disampaikan, toh naik gak naik saya tetap (terpaksa) BBM beli juga, sejenak saya mendengarkan dari jauh berita yang disampaikan sambil lalu. Sekilas saya menangkap berita tentang seorang penjual bensin yang gantung diri (sampai mati tentunya) karena alasan ekonomi.

Dia tidak dapat membeli bensin lagi karena harga bensin yang melonjak naik. Hehe lucu juga mendengar itu (tentu orang yang dekat dengannya pasti akan mencak-mencak tau saya bilang seperti ini) sebuah bahasa hiperbola yang berbunyi “harga yang mencekik leher” ternyata bukan hanya bahasa hiperbola untuk kasus ini, karena seseorang benar-benar “tercekik” oleh himpitan ekonomi. Hmpf…………… (menghela nafas panjang) sebuah mimpi buruk benar- benar telah terjadi, puluhan ribu massa yang berdemonstrasi mulai dari kaum intelektual sampai kaum begundal, yang tidak hanya berkucuran keringat tetapi sampai bersimbah darah tidak dapat menghentikan sebuah kebijakan yang berdalih menyelamatkan anggaran Negara yang oleh sekelompok orang dianggap merugikan kaum miskin sementara oleh sebagian (kecil) kelompok lain (yaitu sipembuat kebijakan) beralasan memberikan subsidi kepada yang tepat. Harga BBM naik lagi. Sesaat saya sempat berpikir yaah mudah-mudahan volume orang berkendaraan semakin mengecil, semoga orang bersepeda mulai banyak lagi, lihat dong sisi positifnya, kalau orang bersepeda motor mulai kembali bersepeda kembali kan jogja khusunya kembali sejuk lagi, saat ini kalau bersepeda ditengah kota panas bro….. ajrit kalah ama orang bersepeda motor, gak ada asik-asiknya. mulai berkurang intensitas bermotor berimbas pada mulai terselamatkannya ozon yang banyak dibicarakan itu, efek rumah kaca beserta isu global warming tentu kontradiktif dengan yang dirasakan masyarakat. Sebuah seruan untuk menyayangi alam, ajakan untuk mulai memahami perilaku diri sendiri yang sudah tidak terkontrol yang imbasnya adalah kerusakan alam dengan cara mengurangi penggunaan kendaraan bermotor sehingga tingkat polusi dapat ditekan sebenarnya pas kalau dihubungkan dengan kondisi saat ini. Disaat BBM mulai naik sudah seharusnya anggaran belanja BBM mulai dikurangi karena kebutuhan hidup yang lain juga naik, dengan kata lain anggaran untuk membeli BBM dipakai untuk membeli yang lain. Saya pernah melihat liputan tentang kota Amsterdam (Belanda), disana pejalan kaki itu nyaman karena kota tersebut sangat sejuk. Bahkan menjadi kota yang memiliki tingkat polusi yang sangat rendah. Sepeda menjadi angkutan favorit, untuk pergi jauh menggunakan angkutan umum. Aduuuuhhh ………. Ngiri deh dengan orang-orang belanda tuh. Bayangkan sebuah Amsterdam gitu loh, penduduknya jarang pergi manggunakan sepeda motor apalagi mobil, lha jogja? Disini kalau mau jalan dikota panasnya minta ampuuuun, polusinya gilaaaaaaa……. Mau naek sepeda gak ada nyaman-nyamannya. Kok bisa seperti itu apa orang jogja tuh kaya2? Nope, ternyata harga BBM diAmsterdam tuh mahaaaaaallllll abis, gak Cuma itu pajak untuk kendaraan bermotor juga mahal abis, sehingga orang –orang disana lebih memilih jalan atau sepedaan. Dan hal seperti itu memang disengaja oleh pemerintah Belanda untuk mengurangi polusi di negara itu, tanpa embel-embel menyelamatkan anggaran belanja Negara. Hmpf………… suatu saat nanti Indonesia kalau tiap tahunnya menaikkan harga BBM jogja jadi kayak Amsterdam dong.. hehehe asyiiiik………………………………………….. Hussssssss husss udah-udah, selesai ngimpinya sekarang kembali kepada kenyataan saja, hahaha benar itu hanya harapan saya, sekarang buka ingatan kita untuk kembali ke tahun 2006, saat itu harga bensin adalah Rp.2500 dipertengahan tahun kenaikannya sampai Rp.2000, sehingga harga bensin menjadi Rp4500, bukankah kenaikan waktu itu lebih dasyat? Apakah harapan saya tentang menurunnya jumlah pengguna kendaraan bermotor dan meningkatnya pengguna sepeda ontel benar-benar terjadi? Jawabnya mutlak TIDAK! Montor tetap lalu-lalang, kata teman saya yang bekerja di diler montor Yamaha penjualan setiap bulannya minimal 60 peace, tingkat polusi semakin besar, kondisi jogja semakin panas. Seakan kapas yang tertiup angin, permasalahan ini menguap begitu saja, kenapa bias begini? Bukankah harusnya mereka kewalahan dengan harga yang semakin “mencekik” itu, kenapa kondisi yang sama antara masyarakat Belanda dan Indonesia tetapi berbeda efek samping? Kenapa kita berbeda cara menyikapi permasalahan ini dengan bangsa lain yang lebih maju? Bukankan seharusnya kita meniru dari bangsa yang lebih maju tersebut?, kenaikan harga bensin bukan disikapi dengan positif yaitu dengan cara mengurangi penggunaan bensin sehingga lingkungan menjadi lebih indah tetapi dengan cara menaikkan harga barang-barang dagangan sehingga orang miskin semakin hancur, sementara mereka dimabukkan dengan BTL yang mengecewakan karena sempat ditunda. Jangan-jangan benar kata yusuf kalla tentang “perjuangan temporary” dari para demonstran itu, jangan-jangan setelah bensin naik ini mereka tetap membeli bensin dengan harga baru, dan melupakan peristiwa ini setelah beberapa bulan, kemudian tahun depan mengadakan ritual ini lagi karena harga bensin (mungkin) akan naik lagi tahun depan, dan lupa lagi dan ritual lagi karena bensin naik lagi dan lupa lagi dan begitu terus tiap tahun. Sementara kehidupan manusia semakin susah, lingkungan semakin hancur, seakan kondisi ini sebuah kereta yang berjalan diatas rel yang menuju kesebuah stasiun akhir yaitu kehancuran, sementara kereta itu tidak dapat berbelok arah. Sekali lagi jika pola piker manusia tidak mau berubah, bukan hanya kondisi ekonomi yang hancur, tetapi juga lingkungan, ingat global warming adalah hal yang sudah dapat kita rasakan efeknya. Apakah kita tidak mau peduli dengan itu? Mulailah dengan hal kecil, kurangi menggunakan sepeda motor, pakai seperlunya saja, kalau dekat gunakan saja sepeda atau jalan kaki, selain menghemat BBM juga sehat badan kita dan tentuya mengurangi polusi, artinya kita sehat dunia juga sehat.

~ oleh renuha di/pada Juni 21, 2008.

Tinggalkan Balasan