SALAM, Sekolah Alternatif???!!!

Mungkin kata SALAM tidak asing ditelinga pembaca. Salam sering di ucapkan ketika membuka atau menutup acara. Ataupun ketika kita tidak bertemu dengan teman, kita sering mengucapakan ”salam yo buat….”. Namun salam disini yang dimaksud bukan itu. Tapi SALAM adalah Sanggar Anak Alam, yang dikelola oleh Ibu Wahyaningsih dengan masyarakat sekitar di daerah Nitiprayan, Bantul, yang dikemas dalam suatu metode pendidikan seperti sekolah pada umumnya, namun dengan perbedaan-perbedaan tertentu.

Salah satu hal yang menarik adalah metode pembelajaran yang digunakan berbeda dengan kurikulum yang digunakan oleh pemerintah dan mengenalkan anak-anak untuk dekat dengan alam. SALAM berupaya untuk membangun anak-anak yang berpikir kritis dengan kesederhanaan, dan pastinya juga seperti namanya, Sanggar Anak Alam, SALAM juga berusaha mendekatkan/ mengenalkan anak dengan dengan lingkungan sekitarnya, yaitu alam.

Para pembaca tunggu dulu ya… sebelum kita melangkah lebih jauh kita akan membahas tentang pejuangan ibu wahyaningsing dalam mendirikan Sanggar Anak Alam….

Pada awalnya, SALAM terdapat di daerah Banjarnegara, Lawen, sekitar tahun 1989, yang diprakarsai oleh Ibu Wahya (panggilan akrabnya) . Dengan keadaan remaja saat itu yang cukup memprihatinkan, seperti banyak yang putus sekolah, hamil di luar nikah, membuat Ibu Wahya merasa prihatin dan berinisiatif mendirikan sebuah kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ibu Wahya kemudian mengadakan kegiatan belajar bersama, ataupun belajar memperdalam skill yang dimiliki, seperti bertani, dsb, dimana lama kelamaan kegiatan belajar bersama tersebut berkembang menjadi sekolah berbasis komunitas di Lawen.

Dengan pengalaman yang terjadi di Lawen tersebut, setelah pindah ke Jogja pun Bu Wahya juga berhasil mengembangkan sekolah berbasis komunitas seperti di Lawen. Diangkatnya Ibu Wahya menjadi ketua RT, dimana disana beliau banyak melakukan perubahan, seperti mengganti kegiatan arisan menjadi kegiatan diskusi warga, akhirnya beliau malah menemukan (dari diskusi warga tersebut) suatu kebutuhan yang cukup mendasar di Nitiprayan, yaitu pendidikan anak-anak.

Awal SALAM, seperti yang pernah dilakukan di Lawen, juga dari kelompok-kelompok belajar sederhana. Kemudian seiring dengan perkembangan waktu, juga dirasa membutuhkan suatu play group. Play group sederhana kemudian diadakan juga yang diampu langsung oleh Bu Wahya dibantu dua pemuda desa.

SALAM yang berbasis komunitas ini kemudian berkembang lagi dengan mendirikan taman anak (TA) untuk anak berusia 4-6 tahun, bersamaan dengan semakin banyak relawan yang bergabung untuk mengembangkan SALAM ini. Biasanya masyarakat menyebutnya sekolah TK, namun di SALAM ini disebut TA. Untuk rencana tahun depan, SALAM berencana mendirikan Sekolah Dasar (SD).

Nah,,,, itu tadi sekilas perjuangan Ibu Wahya dalam mendirikan salam. Semoga kita dapat meniru perjuangan beliau, salah satunya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui dunia pendidikan.

Sekarang kita lanjutkan cerita sekilas salam. Bila kita jalan-jalan di daerah SALAM, maka udara sejuk akan menghampiri kita, dengan bentangan sawah yang luas dan gemercik suara air sekitar sawah seolah menyambut kita. Ketika kita menoleh, akan terlihat gubug sederhana, yang didalamnya banyak mainan anak-anak, atau ketika masih di jam belajar, akan terlihat kegembiraan anak-anak yang sedang bermain sambil belajar.

SALAM adalah sekolah berbasis komunitas, LEPAS dari kurikulum pendidikan formal pemerintah, dan juga bukan LSM. Di sekolah ini, anak ditanamkan agar mereka menjadi diri mereka sendiri, misalkan seorang pemuda ingin menjadi seorang petani, maka agar “jadilah petani, namun petani yang professional”. Diharapkan, anak bukanlah hanya sebagai obsesi orang tuanya, namun menjadi dirinya sendiri.

SALAM mempunyai dua kelas/kelompok, yaitu kelompok play group dan Taman Anak (TA). Untuk kelas Play group, kegiatan terdiri dari anak-anak yang berusia sekitar 2-4 tahun, dan dibagi menjadi 2, yaitu 3 hari dan 3 hari. Jadi setiap anak hanya masuk 3 hari namun ada satu hari yang masuk secara bersama, yaitu hari Sabtu. Jam sekolah dimulai dari jam 09.00-11.00 WIB.

Seperti sekolah pada umumnya, pendanaan play group ini adalah dari wali murid. Untuk kelas play group, batasan dari salam adalah uang sumbangan Rp. 25.000,- dan uang SPP Rp. 20.000,-. Di Taman Anak, terdapat koordinator yang mengurus, dibantu oleh guru-guru (seperti juga di play group). TA terdiri dari anak-anak yang berusia sekitar 4-6 tahun, dengan 5 hari sekolah, mulai senin sampaidengan jum’at. Pendanaan yang dilakukan masih dari wali murid, SALAM memberikan batas minimal, yaitu uang SPP Rp. 30.000,- dan uang snack Rp. 20.000,-. Jam sekolah dimulai dari jam 09.00-12.00 WIB.

SALAM terdiri dari dua lokasi yang cukup berdekatan, yaitu lokasi untuk play group dan juga lokasi untuk TA. Lokasi di SALAM ini sangat mendukung dengan sistem pembelajarannya yang sederhana, dan pastinya, anak juga diperkenalkan dengan alam lingkungan sekitar yang alami, dengan dukungan letak lokasi yang berada di tengah-tengah sawah dan dipinggir sawah yang sejuk.

Dengan lokasi hijau seperti itu, akan sangat mendukung salah satu kegiatan disana, yaitu bertanam. Setiap satu minggu sekali anak-anak diajarkan bertanam bersama-sama, misalkan menanam kacang hijau. Ketika telah dipanen, maka akan diolah dan dimakan bersama-sama, sekaligus memperkenalkan pada anak bahwa ternyata hasil panen itu dapat dibuat menjadi makanan yang enak, dan bergizi.

Anak-anak SALAM sangat menikmati tempatnya belajar ini, terbukti dengan ketika telah selesai sekolahpun, banyak anak-anak yang masih belum ingin pulang, karena asik dengan kegiatannya belajar dan bermain sampai orang tuanyapun harus menjemputnya dua kali.

Yaahhh… akhinya sudah selesai cerita tentang salam?! Dari uraian yang telah dijelaskan diatas, kita seolah mendapatkan bukti bahwa jika diorganisasikan dengan baik, maka suatu komunitas itu bisa berjalan dengan sangat baik dengan sendirinya, dengan mekanismenya sendiri, bahkan bermanfaat.

~ oleh renuha di/pada Juni 21, 2008.

Tinggalkan Balasan